Mengenang 69 Tahun Konferensi Asia Afrika dan Lahirnya Dasa Sila Bandung Sebagai Senjata Geopolitik

Pada 18 April 1955, sejumlah negara benua Asia dan Afrika mengadakan pertemuan penting di Gedung Merdeka, Bandung, Indonesia, setelah membebaskan diri dari penjajahan. Pertemuan tersebut dikenal sebagai Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika atau Konferensi Asia-Afrika (KAA), yang melibatkan partisipasi dari 29 negara.

Presiden Sukarno meresmikan persidangan ini, yang dipimpin oleh Perdana Menteri Ali Sastromijoyo. Selama enam hari, para peserta membahas isu-isu seperti kolonialisme Barat, kerja sama ekonomi dan kebudayaan, serta dampak Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet terhadap negara-negara lainnya.

Bagi Indonesia, KAA merupakan platform untuk mempromosikan hak mereka dalam menentang upaya Belanda yang ingin menguasai Irian Barat.

Dari pertemuan tersebut, dihasilkan sepuluh poin yang dikenal sebagai Dasasila Bandung. Dasasila Bandung berisi pernyataan mengenai dukungan terhadap kerukunan dan kerja sama dunia, yang mencakup:

  1. Menghormati hak-hak dasar manusia, tujuan, dan prinsip-prinsip yang tercantum dalam Piagam PBB.
  2. Menghormati kedaulatan dan integritas teritorial semua bangsa.
  3. Mengakui kesetaraan semua suku bangsa, besar maupun kecil.
  4. Tidak melakukan intervensi atau campur tangan dalam urusan dalam negeri negara lain.
  5. Menghormati hak setiap bangsa untuk mempertahankan diri sendiri atau kolektif sesuai dengan Piagam PBB.
  6. Tidak menggunakan pertahanan kolektif untuk kepentingan negara besar atau melawan negara lain.
  7. Tidak melakukan agresi atau ancaman kekerasan terhadap wilayah atau kemerdekaan politik suatu negara.
  8. Menyelesaikan perselisihan internasional melalui cara damai seperti perundingan, persetujuan, arbitrasi, atau metode damai lainnya.
  9. Memajukan kepentingan bersama dan kerjasama.
  10. Menghormati hukum dan kewajiban internasional.
Baca Juga :  'Marhaenisme' Ideologi Sukarno Lahir Di Bandung Selatan

Referensi: Asianafricanmuseum.org