Nyirib, Tradisi Masyarakat Sunda Jelang Puasa Yang Hampir Punah

Jabartrust.com, Bandung, – Bagi masyarakat Pasundan, menangkap ikan secara gotong royong adalah sebuah kegembiraan yang ditunggu-tunggu menjelang bulan puasa. Pada era 1980-an, tradisi unik ini masih dijaga dengan erat oleh masyarakat Sunda di desa-desa terpencil. Tiga hari sebelum “munggah” (hari sebelum Ramadan dimulai), mereka seringkali berkumpul untuk menangkap ikan di sungai besar secara bersama-sama.

Aki Ucup, yang saat ini berusia 95 tahun, masih jelas mengingat ritual tahunan ini, yang dikenal sebagai “nyirib” atau “nawu.” Tempatnya adalah Sungai Cimandiri, Sukabumi, di mana ia bersama warga desanya berkumpul untuk menikmati kebersamaan dan kegembiraan.

“Sejak kecil hingga dewasa, nyirib adalah acara yang ditunggu-tunggu, karena selain sebagai hiburan, kami juga bisa bertukar cerita dan berbagi kabar tentang kehidupan masing-masing di desa,” ujar Aki Ucup.

Tradisi nyirib bukanlah hal yang asing di Priangan. Menurut budayawan Sunda, Aan Merdeka Permana, tradisi ini telah berlangsung sejak masa kejayaan kerajaan-kerajaan Sunda. Selain memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari, nyirib juga berfungsi sebagai cara untuk memperkuat solidaritas sosial di kalangan masyarakat Sunda.

Baca Juga :  Peluang Pekerja Berketerampilan Khusus Jabar Semakin Terbuka di Jepang

“Aktivitas ini sebenarnya lebih menekankan nilai-nilai gotong royong,” kata Aan.

Tradisi nyirib pada masa kerajaan Sunda biasanya dilakukan setiap akhir tahun. Namun, dengan masuknya agama Islam sebagai agama mayoritas masyarakat Sunda, tradisi ini berpindah waktu pelaksanaannya menjadi menjelang bulan Ramadan. Tradisi ini dijalankan hampir merata di berbagai wilayah Priangan, terutama di lingkungan yang dekat dengan sungai besar dan sedang.

Persiapan untuk nyirib dimulai sejak pagi hari. Ritual-ritual doa pertama dilakukan, kemudian para pria mulai mengondisikan “leuwi” (bagian dalam sungai yang banyak ikan). Mereka membuat pembatas dengan batu dan dedaunan serta mengalirkan air dari hulu ke hilir menggunakan metode “dipekong” (membuat beberapa alur sungai kecil dengan menggunakan batu, tanah liat, dan dedaunan).

Baca Juga :  Bawaslu Kabupaten Bekasi Lakukan Sosialisasikan Pemilu Kepada Calon Pemilih Pemula

Setelah pembatasan selesai, arus air dari hulu dialihkan ke hilir, dan air yang tersisa dalam pembatasan tersebut dikeluarkan oleh ratusan orang dengan menggunakan “tawu” (ember besar). Begitu ribuan liter air telah dikeluarkan dan situasi sudah dianggap aman, pemimpin acara (biasanya kepala dusun atau kepala desa) memerintahkan semua orang, termasuk anak-anak dan perempuan, untuk terjun mencari ikan dengan berbagai cara.

R. Agus Thosin, yang saat ini berusia 72 tahun, masih mengingat saat-saat nyirib di wilayah Cianjur. Ia masih bisa merasakan kegembiraan yang disukai oleh penduduk desanya saat melaksanakan tradisi ini, terutama oleh anak-anak kecil.

Menggunakan berbagai peralatan tradisional seperti “sirib,” “lambit,” “kecrik,” “ayakan,” dan “bubu,” mereka berlomba-lomba menangkap ikan yang sudah tidak bisa melarikan diri.

Hasil dari kegiatan nyirib ini biasanya melimpah. Berbagai jenis ikan yang saat ini mungkin jarang ditemui, seperti senggal, tawes, udang, mujaer, gengehek, gabus, lele, kancra, dan lain-lain, berhasil mereka tangkap dari sungai.

Baca Juga :  7 Hidangan Khas yang Wajib Ada Saat Lebaran

“Kita bisa mendapatkan banyak sekali ikan, bahkan berkwintal-kwintal,” kata Agus.

Ikan-ikan ini kemudian dimasukkan ke dalam wadah besar dan dibagikan secara merata kepada seluruh penduduk desa, termasuk kepada orang tua yang sudah tidak mampu lagi untuk ikut dalam kegiatan ini. Ketika ikan-ikan dibagikan, biasanya mereka dibungkus dengan daun pisang atau daun jati.

“Menjelang puasa, semua orang sangat bahagia karena mereka bisa memasak ikan yang sangat lezat,” kata Agus.

Namun, tradisi nyirib sekarang hampir punah. Dengan perkembangan pabrik-pabrik dan pembangunan perumahan di tepi sungai, tradisi ini mulai meredup. Tidak ada lagi pembagian ikan yang penuh kegembiraan. Lebih disayangkan lagi, jenis-jenis ikan seperti kancra, tawes, senggal, dan genggehek, yang dulu sangat populer, tampaknya telah hilang dari perbincangan generasi muda Priangan saat ini.