Pieters Park, Taman Bunga Pertama di Bandung dan Cerita di Balik Namanya

Jabartrust.com, Bandung, – Dalam cerita Wajah Bandung Tempo Doeloe, kita diajak untuk mengenang Pieters Park, yang kini lebih dikenal sebagai Taman Merdeka. Taman ini adalah tempat yang penuh sejarah, dengan akar yang membawa kita ke tahun 1855. Taman bunga pertama di Bandung ini memiliki cerita menarik di balik namanya.

Namanya diambil untuk mengenang peran dan jasa Pieter Sijthoff, seorang Asisten Residen yang bertugas untuk mengurus dan mengelola Kota Bandung pada zamannya. Sijthoff bukan hanya seorang pegawai pemerintah yang cakap, tetapi juga seorang budayawan yang sangat dihormati di Kota Bandung tempo dulu. Dia adalah Manajer kota yang ulung dan juga pendiri serta Ketua Perkumpulan Sandiwara Toneelvereniging Braga.

Sebagai seorang Botanikus, Meneer R. Teuscher, yang tinggal di Jalan Tamblong-Naripan, memiliki peran penting dalam perencanaan pembangunan taman ini. Bentuk taman pada awalnya sederhana, dengan desain datar dan hampir bujur sangkar. Jaringan jalan di dalam taman membentuk huruf ‘Y’. Di pusat taman, pada pertemuan ketiga jalur jalan, terdapat sebuah bangunan ‘koepel’, yang digunakan sebagai tempat berteduh atau pertunjukan musik orkes Brass-Band setiap malam minggu.

Baca Juga :  Ini Cara Mursid Cegah PMK pada Sapi Dagangannya

Bandung memiliki iklim yang mendukung pertumbuhan beragam tumbuhan, dan P. Dakkus dalam Planten en Bloemen in Nederlandsch-Indie, 1924 memuji kesuburan tanah di dataran tinggi Bandung. Dia menyatakan, “Untunglah iklim di Indonesia sangat baik-serasi. Sesuai dengan siloka: bila engkau tancapkan sebatang tongkat di tanah, pastilah ia tumbuh bersemi.”

Untuk menjaga kelembaban tanah di sekitar taman, sebuah kanal digali di tepi utara taman untuk membatasinya dari pekarangan Kantor Gemeente Bandung. Di atas kanal dibangun jembatan besi melengkung yang mirip dengan jembatan kereta api.

Air yang mengalir di saluran kanal berasal dari Sungai Cikapayang yang berada di Taman Sari Atas di lembah Cikapundung. Penduduk setempat bergotong royong menggali saluran air ini, yang kemudian mengalir ke empat taman lain di Kota Bandung: Izjerman Park (Taman Ganecca), Pieters Park (Taman Merdeka), Molukken Park (Taman Maluku), dan Insulinde Park (Taman Nusantara).

Baca Juga :  Ketua DPRD Kota Cirebon Harap Anggaran LPM Tak Dipangkas

R. Teuscher, seorang ahli botani, menanami taman dengan berbagai jenis tanaman, termasuk pohon kenari (Canarium), pohon karet (Fiscus elastica), pohon sepatu (cucurutan), dan banyak lagi. Taman juga dihiasi dengan pohon cemara laut, aren, pinang, tanjung, bungur, dan bambu.

Rumput gazon yang digunakan dalam taman adalah dari jenis Cynodon, sedangkan bunganya termasuk sedap malam (arumdalu), kembang merak, pacar cina, kamuning, kisoka, dan kacapiring.

Salah satu pohon langka yang patut dibanggakan adalah pohon ki damar (damarbomen), yang memberikan keanggunan pada Jalan Dago di Bandung. Hal ini ditegaskan oleh Dr. L. Van der Pijl, seorang botanikus Belanda lainnya.

Taman Merdeka juga memiliki peran sosial yang signifikan. Taman ini menjadi pusat kegiatan para Preanger Planters, para perkebunan di Priangan. Setiap Sabtu sore, mereka berkumpul untuk memamerkan kendaraan-kendaraan mereka yang mengkilap dan menikmati pertunjukan musik orkes. Dengan hadirnya orkes, malam minggu di daerah pegunungan tidak lagi terasa sunyi.

Baca Juga :  Agar Terbebas dari Impor, Ridwan Kamil Minta Pusat Siapkan Data Perdagangan Dalam Negeri

Hiburan musik malam minggu dilanjutkan dengan Brass Band dari Corps Muziek Tentara Kolonial Belanda. Taman dipenuhi oleh penonton yang antusias, yang duduk dengan tertib di bangku-bangku besi sepanjang jalan dalam taman. Yang tidak kebagian tempat duduk cukup bersantai di rerumputan.

Taman Merdeka, sejatinya, adalah tempat yang terbuka bagi siapa saja. Ini bukan taman yang tertutup, namun taman yang ramah dan selalu terbuka untuk semua. Di sini, warga Kota Bandung dulu bisa bersosialisasi, bergaul, dan menikmati pertunjukan seni, menjadikannya bagian penting dari sejarah Kota Bandung yang mempesona.