Sejarah Panjang Gamelan Sari Oneng Parakansalak

Jabartrust.com, Bandung,-Gamelan Sari Oneng Parakansalak adalah kelompok gamelan yang memiliki sejarah panjang dan perjalanan internasional. Mereka mulai melakukan perjalanan ke mancanegara pada tahun 1883 setelah Gustaf CFW Mundt menggantikan A.W. Holle sebagai Administrator Perkebunan Parakansalak. Mundt membawa rombongan gamelan ini dalam pameran di Kota Amsterdam, Belanda.

Setelah tampil di Belanda, Gamelan Sari Oneng melanjutkan perjalanannya ke Kota Paris, Perancis, dan tampil selama enam bulan pada tahun 1889. Pada saat kunjungan Gubernur Jendral Cornelis Pjnaker Hordijk ke Sukabumi pada Agustus 1889, gamelan diatonik milik Mundt bahkan sempat memainkan lagu kebangsaan Belanda, Het Wilhelmus. Saat ini, gamelan berlaras pelog tersebut disimpan di Museum Negara Leiden, Belanda.

Baca Juga :  Dugaan Pungli, SMPN 1 Subang Ternyata Sekolah Dibawah Binaan Kejari Subang

Gamelan ini mungkin mengalami sedikit perubahan setelah kembali dari Paris, mengingat pameran di Paris berlangsung hingga November 1889. Mereka juga tampil dalam pameran internasional lain, seperti The World’s Columbia Exposition International di Chicago, Amerika Serikat, pada tahun 1893, yang dipimpin oleh seorang pekerja sekaligus pemain rebab bernama Suminta Mein. Suminta, pemain rebab tersebut, memiliki seorang anak perempuan bernama Iyi Endah, yang kemudian menjadi istri dari W. Th. Boreel, seorang administrator di Parakansalak, Sukabumi.

Setelah serangkaian perjalanan internasional, Gamelan Sari Oneng kembali ke Hindia Belanda pada awal abad ke-20. Mereka tetap digunakan dalam berbagai acara seremonial oleh priayi dan pembesar Belanda.

Baca Juga :  Warga Jabar Pesan Minyak Goreng Bisa Lewat Aplikasi Sapawarga. Begini Caranya!

Namun, saat pecah Perang Dunia II dan Jepang masuk ke Indonesia pada tahun 1942, Gamelan Sari Oneng disembunyikan oleh Bupati Sukabumi, Soeria Daoeningrat. Tindakan ini dilakukan karena Jepang mencari bahan-bahan logam untuk keperluan perang, dan gamelan mengandung unsur logam. Atas jasanya ini, Administratur Parakan Salak, MOA Huguenin, menghibahkan Gamelan Sari Oneng kepada Soeria Daoeningrat pada tahun 1957.

Setelah Soeria Daoeningrat wafat pada tahun 1975, keluarganya menitipkan Gamelan Sari Oneng di Museum Geusan Ulun Sumedang. Namun, goong indung atau goong ageung (gong besar) Sari Oneng yang memiliki garis tengah 92 cm dengan berat 30 kg masih disimpan di Tropen Museum di Belanda. Pada April 1989, gong tersebut dikembalikan ke Indonesia karena sering berbunyi sendiri, yang menimbulkan ketakutan bagi pengelola dan pengunjung museum.

Baca Juga :  18 Petani Milenial Terbebas Dari Hutang

Saat ini, di Museum Geusan Ulun Sumedang terdapat plakat yang menjelaskan kepemilikan dan penyerahan Gamelan Sari Oneng Parakansalak kepada ahli waris R.A.A Soeria Danoeningrat. Dalam keterangan tersebut, disebutkan bahwa gamelan tersebut dititipkan (bukan diserahkan) kepada museum untuk dirawat. Hingga kini, gamelan tersebut tetap menjadi milik keluarga R.A.A Soeria Danoeningrat, bukan milik Pemda Sumedang.