Pola Asuh Mempengaruhi Perkembangan Diri Pada Anak

JABARTRUST.COM, BANDUNG, – Sebagian besar waktu kehidupan anak dilalui bersama dengan orang tua (misalnya ibu kandung) terutama pada ibu yang tak bekerja di luar rumah.Namun untuk masyarakat kota-kota besar, di mana seorang ibu berperan ganda yakni juga bekerja di luar rumah, maka anak hidup bersama dengan kakek-nenek atau pembantu rumah tangga. Hal itu sering kali menghadapi masalah terutama berkaitan bagaimana perkembangan diri anak-anak

 

Perkembangan diri anak sangat dipengaruhi pola asuh yang diterapkan oleh orang tua. Baik pada orangtua yang bekerja maupun orangtua yang tidak bekerja akan memberi pengaruh secara bermakna terhadap perkembangan diri anaknya. Menurut Baumrind (dalam Papalia,et.al.,2004) ada 4 jenis pola asuh yaitu :

 

  1. Pola Asuh Otoriter

Dalam pola asuh ini orangtua merupakan sentral artinya segala ucapan perkataan maupun kehendak orang tua dijadikan patokan (aturan) yang harus ditaati oleh anak-anak. Supaya taat, orang tua tak segan-segan menerapkan hukuman yang keras kepada anak. Orang tua beranggapan agar aturan itu stabil dan tak berubah, maka seringkali orangtua tak menyukai tidakan anak yang memprotes, mengkritik, atau membantahnya.

Baca Juga :  Alami Gizi Buruk Bayi Berusia Tujuh Bulan Meninggal Dunia di ruang ICU RSUD Sayang Cianjur

Kondisi tersebut mempengaruhi perkembangan diri pada anak. Banyak anak tang di didik dengan pola asuh otoriter ini, cenderung tumbuh berkembang menjadi pribadi yang suka membantah, memberontak dan berani melawan arus terhadap lingkungan sosial.

 

  1. Pola Asuh Permisif

Sebaliknya dengan tipe pola asuh permisif ini, orangtua justru merasa tidak peduli dan cenderung memberi kesempatan serta kebebasan secara luar kepada anaknya. Bila anak mampu mengatur seluruh pemikiran, sikap dan tindakannya dengan baik, kemungkinan kebebasan yang diberikan oleh orangtua dapat dipergunakan untuk mengembangkan kreativitas dan bakatnya, sehingga ia menjadi seorang individu yang dewasa,inisiatif, dan kreatif.

Tetapi hal itu tak banyak ditemui dalam kenyataan, karena ternyata sebagian besar anak tidak mampu menggunakan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya. Mereka justru menyalahgunakan suatu kesempatan, sehingga cenderung melakukan tindakan-tindakan yang melanggar aturan-aturan sosial.Dengan demikian perkembangan diri anak cenderung menjadi negatif.

Baca Juga :  Mak Esih, Potret Kemiskinan di Kota Bandung

 

  1. Pola Asuh Demokratis

Pola asuh demokratis (authoritative) ialah gabungan antara pola asuh permisif dan otoriter dengan tujuan untuk menyeimbangkan pemikiran,sikap dan tindakan antara anak dan orang tua. Baik orang tua maupun anak mempunyai kesempatan yang sama untuk menyampaikan suatu gagasan, ide atau pendapat untuk mencapai suatu keputusan. Dengab demikian orangtua dan anak dapat berdiskusi, berkonunikasi atau berdebat secara konstrujtif,logis, rasional demi mencapai kesepakatan bersama. Karena hubungan komunikasi antara anak dan orangtua berjalan menyenangkan, maka terjadi pengembangan kepribadian yang mantap pada diri anak. Anak makin mandiri, matang dan dapat menghargai diri sendiri dengan baik.

 

  1. Pola Asuh Situasional

Tak tertutup kemungkinan bahwa individu yang menerapkan pola asuh itu tak tahu apa nama/jenis pola asuh yang dipergunakan, sehingga secara tak beraturan menggunakan campuran ke-3 pola asuh di atas. Jadi dalam hal ini tak ada patokan atau parameter khusus yang menjadi dasar bagi orangtua untuk dapat menggunakan pola asuh permisif, otoriter maupun demokratis. Hal ini disesuaikan dengan kondisi dan situasi, tempat dan waktu bagi setiap keluarga yang bersangkutan.

Baca Juga :  Pelatihan Bisnis UMKM bagi Komunitas RSC-WSC

 

ditulis oleh:

 

Nama : Ana Iis Tiana
Mahasiswa Universitas Kebangsaan Republik Indonesia

10 Januari 2023

disunting: redaksi jabartrust.com

 

 

Daftar Pustaka

Drs. Agoes Dariyo, Psi. “Psikologi Perkembangan Anak Tiga Tahun Pertama” Bandung : Esensi, Cetakan Kesatu, Januari 2007 dan Cetakan Kedua,Juni 2011