Perajin Tahu Tempe Cibuntu Khawatir Mahalnya Harga Kedelai Impor

Jabartrust.com, Bandung, – Banyak para perajin tahu tempe di Cibuntu, Kota Bandung, yang sedang merasa khawatir akan mahalnya harga kedelai impor. Harga bahan baku kedelai impor saat ini mencapai Rp 12.900 per kilogram. Padahal satu bulan sebelumnya, harga kedelai masih Rp10.000 per kilogram. Zamaludin, salah satu perajin tahu tempe di wilayah tersebut, mengeluhkan kenaikan harga tersebut. Menurutnya, kenaikannya bertahap hampir setiap hari.

“Kenaikannya bertahap, hampir setiap hari, ada yang Rp50, Rp100, Rp200, bahkan sampai Rp400,” kata Zamaludin dalam sebuah wawancara pada Kamis, 9 November 2023.

Kenaikan harga kedelai impor ini menjadi masalah bagi para perajin tahu tempe di wilayah tersebut. Meskipun para perajin mengalami kerugian, mereka terpaksa tetap memproduksi, karena stok kedelai semakin menipis.

Baca Juga :  Partai Golkar memastikan 10 kursi pada Pemilihan Legislatif (Pileg) DPRD Kabupaten Bogor di Pemilu 2024.

“Kami sebenarnya terpaksa harus produksi walaupun dalam keadaan menipis, sekarang tidak ada stok (kedelai) lagi. Bahkan, kami cenderung merugi karena harga kedelai terus naik,” tambah Zamaludin.

Zamaludin mengungkapkan bahwa naiknya harga kedelai impor disebabkan oleh melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Meskipun para perajin sudah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi kenaikan harga, termasuk mengecilkan ukuran atau menaikkan harga, masih sulit karena kurangnya kesepakatan.

“Yang lain sih udah ada yang ngecilin ukuran, menaikan harga, tapi gak kompak ya susah juga. Ini kejadian hampir setiap tahun,” tegasnya.

Beberapa perajin bahkan harus menghentikan produksi karena tidak lagi mampu menanggung biaya produksi. Zamaludin mengharapkan pemerintah dapat membantu menekan harga kedelai impor.

Baca Juga :  Jabar Terima Penghargaan Smart Province dari Kementerian Kominfo RI

“Karena yang bisa nolong sekarang Bulog, harusnya sekarang jualan kedelai seperti dulu lagi. Karena kalau Bulog jualan kedelai, otomatis harga itu bisa ditekan oleh Bulog,” pungkasnya.