Bukti Penegakkan Hukum Humanis Ke Bawah, Kejari Kota Cirebon Lakukan Restorative Justice Kepada 2 Orang

JABARTRUST.COM, KOTA CIREBON – Kejaksaan Negeri Kota Cirebon lakukan Restorative Justice kepada 2 orang di Aula Kejaksaan Negeri Kota Cirebon.

Kedua orang tersebut bernama Dodi Wijaya, dan Andry. Kedua orang tersebut merupakan seorang kakak dan adik yang terlibat perkelahian.

Kasus tersebut dimulai dari Andry yang menahan sertifikat rumah Dodi, dikarenakan hal tersebut merupakan amanat almarhumah ibu Andry dan Dodi, untuk menyimpan sertifikat rumah Dodi.

Setelah itu, Dodi meminta sertifikat tersebut kepada kakaknya yaitu Andry, namun Andry tidak mau memberikan sertifikat tersebut. Setelah itu, Dodi melaporkan Andry ke Polres Cirebon Kota.

Polres Cirebon Kota pun melakukan mediasi, mediasi tersebut dihadiri juga oleh keluarga kedua belah pihak, namun mediasi tersebut tidak menemui kesepakatan.

Baca Juga :  Bukti kepekaan sosial kepada masyarakat Lapas Kelas IIB Cianjur Gelar Donor Darah

Setelah itu, dikarenakan istri Dodi yang memancing emosi, anak Andry ingin memukul istri Dodi tersebut, namun Dodi terlebih dahulu memukul anak Andry dan terjadi keributan.

Polres Cirebon Kota pun menahan keduanya, pasal yang dikenakan untuk Andry adalah tipu gelap, sementara itu untuk Dodi adalah kekerasan.

Setelah berkas lengkap, dilakukan lah tahap 2 oleh Kejaksaan Negeri Kota Cirebon dan dilakukan penahanan di Rutan Cirebon.

Sebelum dilimpahkan ke Pengadilan Negeri Cirebon, kedua belah pihak sepakat untuk mengambil jalan damai.

Setelah ada kesepakatan damai dari kedua belah pihak, Kejaksaan Negeri Kota Cirebon mengajukan restorative justice kepada Kejaksaan Agung.

Kepala Kejaksaan Negeri Kota Cirebon, Umaryadi mengatakan, restorative justice ini salah satu syaratnya adalah perdamaian dari kedua belah pihak.

Baca Juga :  Pertamina EP (PEP) Subang Field Kembali Lepasliarkan 7 Ekor Owa Jawa Di Kawasan Hutan Lindung

“Harus ada suatu kesepakatan perdamaian, banyak prosedur administrasi yang kita tempuh untuk melakukan restorative justice ini,”katanya, Kamis (1/12/2022).




Umaryadi melanjutkan, restorative justice tersebut memerlukan waktu selama 14 hari sampai dengan disetujui oleh Kejaksaan Agung.

“Selain adanya kesepakatan damai dari kedua belah pihak, syarat lainnya adalah ancaman hukuman tindak pidana tersebut tidak lebih dari 5 tahun,” lanjutnya.

Dirinya menegaskan, keduanya tidak boleh lagi melakukan tindak pidana apapun, jika keduanya melakukan tindak pidana kembali maka restorative justice tersebut akan dicabut.

“Kita akan melakukan pengawasan terhadap keduanya, jika melakukan tindak pidana kembali keduanya tidak bisa kembali mendapatkan restorative justice,”tutupnya.

Sementara itu, Dodi mengaku sangat senang dirinya mendapatkan restorative justice.

Baca Juga :  RK Tinjau Operasi Pasar, Vaksinasi dan Gebyar Desa Di Kuningan

“Sangat bersyukur, terlebih bisa berkumpul dengan keluarga lagi,” singkatnya. ***(