Gelombang Protes Besar: Ribuan Buruh SPSI Jawa Barat Serbu Gedung Sate

Jabartrust, Bandung — Sebuah gelombang protes massal mengguncang Kota Bandung, Jawa Barat, saat ribuan buruh yang tergabung dalam Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Jawa Barat menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung Sate. Mereka memenuhi jalan-jalan sepanjang pagi hingga sore, membawa poster-poster tuntutan dan berorasi di tengah kemacetan total.

Tuntutan utama mereka adalah terkait kenaikan upah minimum yang dianggap tidak memadai, serta penolakan terhadap Peraturan Pemerintah Nomor 51 tahun 2023 yang dinilai merugikan buruh. Beberapa di antara mereka membentangkan poster dengan tuntutan kenaikan upah minimum hingga 12 persen, berdasarkan pertumbuhan ekonomi Jawa Barat, inflasi, dan produktivitas.

Dalam orasinya, Ketua SPSI Jabar, Roy Jinto, mengkritik perhitungan upah minimum berdasarkan PP Nomor 51 tahun 2023 yang dianggap tidak adil bagi buruh. Ia menegaskan bahwa tuntutan mereka adalah hak yang sah untuk memperjuangkan nasib kaum buruh.

Baca Juga :  Siarkan Keberhasilan Jabar Melalui Tulisan

Namun, tidak hanya terkait upah minimum, Roy juga menyoroti kebijakan Pj Gubernur Jabar, Bey Machmudin, terkait surat keputusan gubernur terkait upah satu tahun ke atas. Roy mendesak agar surat keputusan tersebut diterbitkan kembali untuk menjamin hak-hak buruh.

Tidak hanya SPSI, Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) juga bersuara. Presiden KSPI, Said Iqbal, menuntut kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) 2024 sebesar 15 persen. Dalam konferensi pers virtual, Said mengancam akan menggelar mogok nasional dengan partisipasi jutaan buruh jika tuntutan tersebut tidak dipenuhi.

Sejumlah asosiasi pekerja lainnya, termasuk Asosiasi Serikat Pekerja (ASPEK), juga mengangkat isu kenaikan upah. ASPEK menilai kenaikan upah sebesar 15 persen sebagai angka yang realistis, sementara formula dalam PP Nomor 51 tahun 2023 dinilai tidak sesuai harapan buruh.

Baca Juga :  Calon Pengantin Sasaran Strategis Penurunan Stunting

Aksi mogok nasional direncanakan akan dilakukan dalam rentang waktu 30 November sampai 13 Desember 2023. Said Iqbal menjelaskan bahwa aksi tersebut tidak dimaksudkan untuk menghancurkan, tetapi sebagai cara untuk memaksa pihak perusahaan dan pemerintah untuk berunding terkait kenaikan upah.

Dengan semakin memanasnya situasi, para buruh bersiap-siap untuk menggelar aksi besar di Gedung Sate pada tanggal 29 dan 30 November 2023. Aksi ini diharapkan dapat menjadi panggilan keras bagi pemerintah dan pengusaha untuk mendengarkan suara buruh yang tengah berjuang demi hak-hak mereka.