Jumlah Ternak Menyusut Karena PMK, Peternak Rugi Besar

JABARTRUST.COM, KABUPATEN BANDUNG – Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Cucu Sugyati meminta pemerintah provinsi Jawa Barat untuk segera melakukan langkah optimal untuk menanggulangi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).

Salah satunya di Koperasi Peternak Bandung Selatan (KPBS), Pangalengan, Kabupaten Bandung yang menyebabkan banyak hewan peliharaan peternak mati sehingga mengalami

“Hewan ternak banyak yang mati sehingga jumlahnya kian hari semakin menyusut. Akhirnya peternak banyak yang menganggur,” kata Cucu.

Ia menyebut banyak karyawan-karyawan KPBS yang sudah kena PHK sehingga pemerintah harus turun tangan.

Menurutnya, keberadaan KPBS ini harus dibantu, karena ini berkaitan dengan masyarakat yang memang kehidupannya di sektor Peternakan,

“Ini yang menjadi persoalan dimana masyarakat memamng banyak yang memelihara ternak sehingga kehilangan pekerjaan,” ucap Cucu.

Baca Juga :  Gubernur Ridwan Kamil Optimistis Pangdam III Siliwangi Baru Dukung Jabar Juara

Ia mengungkapkan Komisi II DPRD Jabar mendorong Pemerintah untuk segera melakukan langkah penanggulangan.

Namun, kata Cucu, pihaknya tak hanya mendorong Pemerintah untuk membantu KPBS saja, tetapi seluruh kegiatan Peternakan yang memang hari ini terdampak PMK .

“Virus PMK ini menyebar cukup luas. Pemerintah Pusat juga mengupayakan bagaimana membantu KPBS dan para peternak Sapi,” pungkasnya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil meminta masyarakat untuk tidak khawatir terhadap Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan kurban.

Kang Emil –sapaan Ridwan Kamil– memastikan penanganan terhadap infeksi virus PMK di Jabar dilakukan dengan maksimal. Salah satunya dengan mempercepat vaksinasi.

“Masyarakat Jabar tetap tenang, penanganan PMK hewan di Jabar tertangani dengan baik menjelang Iduladha bulan depan, jangan khawatir,” kata Kang Emil.

Baca Juga :  Program Jamu Tingkatkan Kemantapan Jalan Jawa Barat

Ia menjelaskan, pelaksanaan vaksinasi PMK pada hewan ternak di Jabar dilakukan tiga tahap yakni suntikan pertama, kedua, dan booster.

“Sama seperti vaksinasi COVID-19 suntikan pertama, kedua dan booster,” ucap Kang Emil.

Bagi hewan ternak yang sudah diperiksa sehat dan cukup umur, kata Kang Emil, akan diberikan sertifikat yang dipasangkan pada leher hewan. Hal itu menandakan bahwa hewan tersebut sehat dan siap untuk dikonsumsi.

“Semua yang sehat akan dikasih sertifikat yang bisa dicek menggunakan handphone. Jadi nanti di setiap kuping sapi sehat bisa di-scan barcode-nya, menandakan itu siap untuk dilakukan kegiatan khususnya untuk sapi potong,” tandasnya.