Kasus Pendirian Bangunan Diatas Trotoar Berlanjut di PN Bandung

JABARTRUST,COM, BANDUNG – Kasus perusakan bangunan milik warga Sukajadi Kota Bandung terus berlanjut di Pengadilan Negeri Kota Bandung, dan akan memasuki tahap pembuktian. Hal tersebut menyusul ditolaknya eksepsi yang dilayangkan oleh terdakwa berinisial HS.

Selain itu warga pemilik bangunan bernama Norman Miguna juga melayangkan gugatan kepada Dinas Cipta Bintar Kota Bandung atas pembiaran yang dilakukan Pemkot bandung, terhadap bangunan tersebut.

Dipimpin Ketua Majelis Hakim Dalyusra, sidang yang di gelar di PN Bandung ini menyatakan eksepsi terdakwa tidak diterima.

“Menyatakan esepsi terdakwa tidak diterima,” kata Ketua Majelis Hakim dalam persidangan.

Dalam dakwaan jaksa disebutkan, perbuatan terdakwa merupakan sebuah perbuatan pidana yang melanggar pasal 406 dan 170 KUHPidana.

Baca Juga :  Cegah Gagal Ginjal Polres Cirebon Kota Monitoring Apotek Di Kota Cirebon

Kasus ini berawal saat bangunan yang didirikan terdakwa disegel oleh Pemkot Bandung, pada bulan Januari 2022 lalu. Namun, tak berselang lama, segel kembali dibuka Pemkot Bandung dengan alasan kemanusiaan sebab terdapat sejumlah orang yang mencari nafkah.

Pemilik lahan melayangkan gugatan kepada HS ang melakukan pembanguann diatas trotoar dan Dinas Cipta Karya Bina Kontruksi dan Tata Ruang (Cipta Bintar) Kota Bandung.

Kepala Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pemanfaatan Ruang dan Bangunan Gedung Dinas Cipta Bintar Kota Bandung Irwan Hernawan mengakui memang ada gugatan tersebut dan sedang dalma proses peradilan.

Penasehat hukum Norman, Tomson Panjaitan menyatakan gugatan dilakukan karena klien kesal. Karena HS dinilai telah menyalahi aturan mendirikan bangunan diatas trotoar.

Baca Juga :  Gubernur Ridwan Kamil Usulkan Tiga Nama Penjabat Kepala Daerah

Bangunan dinilai melanggar aturan sebagaimana tertuang di dalam surat yang dikeluarkan oleh Dinas Cipta Karya, Bina Konstruksi, dan Tata Ruang Pemkot Bandung Nomor HK 09.01/349/Diciptabintar/I/.

Akibat perbuatan HS, menurut Tomson kliennya merasa terganggu karena sulit masuk ke area rumah yang terhalang bangunan.

Kini rumah korban tidak bisa digunakan karena tinggi akses masuk rumah hanya 1 meter sehingga tidak bisa lewat kendaraan. Kemudian tembok yang dibangun Wiguna juga dirusak.*(Red)